(Lanjutan dari tulisan sebelumnya…. Kali ini sudah tidak lagi di bis, tapi di Djokja)

Sore itu, seorang pemuda sampai di gerbang desa saya. Gerbang yang megah, mirip gapura kerajaan di masa lalu. Di atasnya tertulis “WELCOME TO DESA SUMBER MAKMUR”.
Melihat tulisan itu, pemuda itu keheranan. Mungkin ia heran kenapa di desa yang letaknya amat jauh dari kota ini, kalimat penyambutnya bukan dalam bahasa Jawa atau bahasa Indonesia. Malah berbahasa Inggris. Tapi aku buru-buru menegurnya untuk mengalihkan perhatiannya.
“Saya sudah menunggu Mas dari tadi. Kita langsung ke rumah aja ya Mas!”
“O, enggeh Mbah.”
“Monggo…. Masnya numpak ten boncengan!”
Setelah pemuda itu naik ke boncengan, saya langsung tancap pedal. Ku kayuh sepada kebo kesayanganku dengan kecepatan sedang. Melewati jalan cor-coran yang sudah mulus dan tidak lagi bergelombang. Beberapa truk dan mobil pick-up lalu lalang. Banyak kios bertebaran di sepanjang jalan.
Desa yang sudah berubah. Rumah kehilangan halaman dan pekarangan. Banyak dibangun toko kerajinan tangan. Ada pula showroom, “show” itu “pertunjukan atau pameran”, sedangkan “room” itu “kamar, ruang, atau tempat”. Jadi showroom itu ruang/tempat pameran. Tapi orang-orang desa lebih suka menyebutnya tempat pemajangan.
Penduduk asli desa mengalami depresi, depressed, diperes, tertekan, terjepit, tersingkir, terpinggirkan. Rumah bambu mereka tertutup rumah orang kota yang gedongan. Mereka membangun toko-toko dan tempat pemajangan. Mirip kantor kompeni yang menutupi kerajaan-kerajaan di zaman penjajahan.
Perajin asli menjadi buruh. Kemudian menyetor hasil kerajinannya ke toko dan tempat pemajangan. Orang-orang kota itu suka memesan yang macam-macam. Sulit membuatnya, mahal bahan bakunya, lama pula pengerjaannya. Katanya itu yang laku. Harga pembelian ditentukan oleh orang-orang kota itu. Harga jual untuk turis juga mereka tentukan. Banyak yang dikemas rapi, dimasukkan truk dan mobil pick-up. Penduduk desa makin lama makin biasa melihat kedatangan mobil-mobil pengangkut itu.
Karena pesanan sering datang dalam jumlah besar, orang-orang kota itu berkeliaran masuk ke desa-desa lain. Ke arah barat, utara, timur, dan selatan. Tapi semua diberi label sebagai “KERAJINAN DESA SUMBER MAKMUR”. Bagi orang luar, desa ini tampak makmur sekali. Tapi bagi penduduk asli, hanya tangis batin yang sering terdengar di malam hari hingga shubuh tiba.
“Sabar Mbah, ini semua akibat dari perdagangan global. Kita harus siap dengan hidup secara global di abad global semacam ini.”
Suara itu tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Tidak salah lagi, suara itu datang dari arah belakangku. Dari seorang pemuda yang kubonceng ini. Sekarang aku yang dibuatnya heran. Dari mana ia tahu apa yang aku pikirkan? Dari mana ia tahu keluhanku tentang perubahan desa yang terasa semakin menusuk hati ini?
“Perdagangan global atau perdagangan gombal, Le?”
Kali ini saya memanggilnya dengan panggilan Tole. Bukannya apa-apa, hanya untuk menumbuhkan suasana keakraban. Kulirik pemuda yang saya bonceng itu, ia tertawa pahit.
“Betul Mbah, antara yang global dan yang gombal memang sulit dibedakan.”
Sejurus kemudian pemuda itu meminta turun. Padahal sepeda keboku baru menempuh setengah perjalanan.
“Mandap ten mriki, Mbah!”
“Lho…. ono opo, Le? Mboncengku ora tegen yo Le?”
“Mboten Mbah. Saya aja yang mbonceng, biar kita lebih cepet sampai rumah dan Mbah cepat ketemu isteri tercinta .”
“Nek wis ketemu bojo terus ngopo, wong wis tuwek arep matek koyo ngene.”
Pemuda itu tertawa.
“Salahe kok gelem tuwo Mbah. Nek enom terus kan asyik.”
“Owalah, cah edan!!! Ha..ha..”
Kami kemudian turun dari sepeda dan melakukan subtitution. Saya duduk di boncengan belakang dan pemuda itu duduk di sedel depan. Kami pun meneruskan perjalanan. Angin sore berhembus semakin kencang. Pemuda itu semakin cepat mengayuh sepeda keboku. Melawan arah berhembusnya angin. Akibatnya, “drag force” yang kami rasakan semakin besar.
Karena bergerak relatif melawan tiupan angin, sepeda yang kami naiki terasa semakin kencang. Hhmmm….. hidup ini memang relatif. Semua tergantung kepada “siapa” pengamatnya dan “apa” yang digunakan sebagai acuannya. Mungkin sekarang saya diam. Duduk manis di atas boncengan sepeda ini. Tapi apakah saya diam terhadap jalan yang kami lewati? Padahal aku tahu kalau jalan ini hanyalah sepetak tanah dari bumi. Sementara bumi sendiri terus berotasi sekaligus berevolusi mengelilingi matahari. Bahkan ada yang bilang kalau jagat raya ini juga terus berkembang dan pada suatu saatnya nanti akan menyusut kembali ke asalnya yang sejati. Itulah “ilmu orang tua”. Ya, orang tua seperti aku ini selalu berusaha mengisi senja hari dengan mencari yang sejati. Tapi orang-orang muda itu mengatakan “wong tuwo iku qur’an bejat”. Separah itukah aku?
Tiba-tiba sepeda yang kami naiki menabrak batu di jalan. Lamunanku pun buyar. Aku perhatikan kios-kios sudah mulai tutup. Tapi warung kopi di pojok itu masih akan buka hingga dini hari nanti, bahkan sampai pagi. Aku biasa mampir di warung itu untuk sekedar minum teh hangat kental manis. Kapan-kapan kalau Tuhan mengijinkan, akan kutuliskan cerita tentang warung kopi itu. Wassalam…
*) terinspirasi oleh penuturan Pak Must…. Ha….. Lagi-lagi, mengingatkanku kepada ia.