Akhir-akhir ini, rasa malu selalu menghinggapi perasaan saya saat berdo’a. Pikiran saya seperti menantang hati saya agar tidak sering-sering berdo’a. Bukan karena sombong, sehingga saya tidak (mau) berdo’a dan seolah-olah tidak butuh pertolongan Tuhan. Bukan pula karena saya tidak percaya lagi dengan kekuatan do’a. Tapi justru karena saya yakin bahwa Tuhan akan selalu mengabulkan do’a seorang hamba-Nya, maka saya menjadi “tidak enak” kalau keseringan berdo’a kepada-Nya.
Jika sedikit ada masalah, saya langsung berdo’a tanpa disertai aksi. Itu seolah-olah (secara tidak langsung) saya berdo’a agar Tuhan menjadikan saya seorang pemalas. Seorang Pemalas yang malas menggunakan anugerah yang telah diberikan Tuhan, berupa otak dan badan yang sehat.
Disamping itu, menurut agama yang saya anut dan saya yakini; Tidak ada perintah untuk memperbanyak do’a, yang beberapa kali diperintahkan adalah perbanyaklah mengingat Tuhan dan perbanyaklah berbuat baik. Mengenai do’a, perintah yang ada adalah “Mintalah kepada-Ku, pasti akan Aku kabulkan”. Dalam kitab suci agama saya, Tuhan berfirman yang artinya sebagai berikut:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah: 186)
Dari ayat di atas, dapat kita pahami bahwa Tuhan akan selalu mengabulkan do’a seorang hamba-Nya bila ia berdo’a kepada-Nya. Yang menjadi masalah adalah, kapan dan dalam bentuk apa do’a itu akan dikabulkan? Harun Yahya dalam salah satu bukunya menjelaskan bahwa:
Tuhan mengabulkan do’a bukan berdasarkan apa yang dipikirkan oleh orang yang berdo’a, tetapi dengan cara yang terbaik.
Artinya, Tuhan mendengar setiap do’a hamba-Nya. Tetapi jika Dia tidak melihat kebaikan dalam do’anya itu, maka Dia akan memberikan apa yang terbaik bagi hamba-Nya itu. Jadi jangan mengira bahwa Tuhan tidak mengabulkan do’a kita hanya karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita minta. Kita harus mulai bisa menyadari tentang rahasia ini.
Sekian dulu. Di tulisan berikutnya, Insya Allah akan saya kemukakan tentang “Tiga Kunci dalam Berdo’a”.
Semoga bermanfaat!
Surabaya, 07 Desember 2008


Dan sebaik-baik doa adalah ucapan rasa syukur….
Salam kenal ya
Cukup inspiratif kalimat Anda!
Salam kenal juga…
ada sebuah riwayat “Satu hari Rasulullah S.A.W telah datang dari daerah
berbukit. Apabila Rasulullah S.A.W sampai di masjid Bani Mu’awiyah lalu beliau masuk ke dalam masjid
dan menunaikan solat dua rakaat. Maka kami pun turut solat bersama dengan Rasulullah S.A.W.
Kemudian Rasulullah S.A.W berdoa dengan doa yang agak panjang kepada Allah S.W.T :
Setelah selesai beliau berdoa maka Rasulullah S.A.W pun berpaling kepada kami lalu bersabda yang
bermaksud : “Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T tiga perkara, dalam tiga perkara itu cuma dia
memperkenankan dua perkara saja dan satu lagi ditolak.
1. Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T supaya ia tidak membinasakan umatku dengan musim
susah yang berpanjangan. Permohonanku ini diperkenankan oleh Allah S.W.T.
2. Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T supaya umatku ini jangan dibinasakan dengan bencana
tenggelam (seperti banjir besar yang telah melanda umat Nabi Nuh s.a). Permohonanku ini telah
diperkenankan oleh Allah S.W.T.
3. Aku telah bermohon kepada Allah S.W.T supaya umatku tidak dibinasakan kerana pergaduhan
sesama mereka (peperangan, pergaduhan antara sesama Islam). Tetapi permohonanku telah
tidak diperkenankan (telah ditolak)”.
yang ingin saya tanyakan, apakah hadist di atas hadist saheh??..
kalau saheh,kenapa ALLAH SWT menolak doa Nabi SAW, pdhl Nabi SAW adlah seorg yg maksum??
di sisi lain ALLAH SWT berfirman “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah: 186)
(semoga ALLAH SWT senantiasa mengampuni atas kejahilan/kebodohan saya dan menambahkan petunjuknya kepada kita,amen)