Kalimat tersebut tentunya sudah tidak asing lagi bagi kita, khususnya orang Islam. Kita bisa dengan mudah menemukan tulisan tersebut pada sampul/cover kitab suci kita, Al-Qur’an, tentunya dalam tulisan arab. Akan tetapi, makna apa yang sebenarnya terkandung dalam kalimat tersebut? Belum tentu kita semua paham, atau kita malah salah sangka terhadap kalimat tersebut.
Selama ini yang kita perbincangkan mengenai kalimat tersebut hanya sebatas pada boleh tidaknya orang yang punya hadats menyentuh Al-Qur’an, atau boleh tidaknya orang haid membaca Al-Qur’an, lsp. Begitu pula dengan saya, awalnya saya juga terperangkap pada ‘lubang’ yang sama. Memang betul, lubang tersebut tidak salah. Tetapi setelah membaca beberapa buku, saya menemukan alternatif ‘lubang’ yang lain.
Apa itu?
Yaitu suatu pemahaman bahwa: Realitas Qur’an, ilmu Qur’an, cahaya Qur’an, kearifan Qur’an, keterangbenderangan petunjuk Qur’an, muatan substansi dan paparan metodologi Qur’an, tidak bisa disentuh kecuali oleh ‘kepribadian yang telah tercerahkan’. Tercerahkan pada empat tataran, yaitu intelektual (objektivitas berpikir), spiritual (kejernihan jiwa, kebersihan hati, ketulusan perasaan serta kepekaan rohani terhadap atmosfer keilahian), mental (ketenteraman, elastisitas & rileksitas, kedamaian, keseimbangan), serta moral (integritas sosial, kesantunan kemanusiaan, sikap demokratis).
Jadi, orang yang sudah suci dari hadats kecil dan besar belum tentu bisa ‘menyentuh’ Qur’an.



terima kasih sangat bermanfaat
Terima kasih sudah mampir,
Sering-sering aja…!