“Orang jujur malah disalahkan, sementara orang yang menghalalkan mencontek malah bersatu mengusir orang jujur.”
Aku langsung tersentak saat melihat kalimat itu di salah satu kolom koran nasional tadi pagi. Bagaimana bisa koran itu – yang selama ini terkenal sangat menjunjung tinggi kode etik jurnalistik – memuat tulisan yang tak main-main tersebut? Sudah dapat dipastikan bahwa tidak ada unsur ketidaksengajaan dalam pemuatannya. Itu terlihat dari penulisannya yang di-blow up di tengah-tengah tulisan dengan ukuran huruf yang agak diperbesar dari sekelilingnya, lengkap dengan cetak tebal serta tanda petik.
Betul juga apa yang dikatakan Pak Tedjo, “bad news is good news”. Kabar buruk justru jadi berita bagus. Lalu, apakah kejujuran itu kabar buruk?
Kita memang latah. Dan media telah berhasil memacu perkembangbiakan virus latah tersebut. Baru mendengar satu-dua berita saja, kita dengan begitu mudah menjustivikasi bahwa: anak ini jujur, anak itu tidak jujur, si anu jujur tapi disalahkan, si itu tukang nyontek tapi malah mengusir orang jujur, dst.
Kita tidak pernah benar-benar mau untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Apakah kita mau dituduh sebagai orang-orang yang tidak jujur? Apakah kita mau dituduh sebagai orang tua yang mengajarkan ketidakjujuran kepada anaknya? Apakah memberi tahu jawaban yang salah kepada orang lain dalam sebuah ujian itu jujur? Apakah menyuruh orang untuk mengasih tahu jawaban yang benar itu salah? Apakah berita yang mengabarkan kejujuran itu jujur? Apakah menuduh orang lain menghalalkan mencontek itu halal? Dan masih banyak sederet pertanyaan lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.
Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, seharusnya kita mempunyai point of view yang lebih beragam dan luas. Sehingga dalam menyikapi sebuah berita/persoalan, kita tidak buru-buru bersifat latah serta manut apa kata media. Dengan begitu semoga kita tidak mudah menyalahkan orang lain, seolah-olah hanya kita sendiri yang benar. Dan menuduh orang lain tidak jujur, seolah-olah hanya kita sendiri lah yang jujur.
Anda bisa saja bilang bahwa “rembulan itu indah”. Tapi saya tidak bisa menggaransi apakah Anda tetap mengatakan hal yang sama jika Anda sudah sampai di bulan dan melihat apa yang sebenarnya ada di permukaannya.
Bagaimana dengan Anda, apa yang Anda rasakan saat pertama kali membaca kalimat pembuka tulisan ini?
Sekian dulu, saya mau ikutan antre tiket.
Lempuyangan, 20 Juni 2011


