“Dunia ini adalah sebuah tempat yang berbahaya untuk didiami, bukan karena orang-orangnya jahat, tapi karena orang-orangnya tak peduli.”
Begitulah kata Mbah Einstein dalam salah satu maqolah-nya.
Kalimat itu benar-benar kurasakan hari ini. Ya… hari ini, di bis yang kutumpangi tadi siang. Bis yang membawaku ke tempat yang begitu asing dan dingin malam ini.
—
Memasuki perbatasan antara Surabaya dan Mojokerto, seorang ibu-ibu berusia sekitar 40 tahunan bersama dua orang putrinya memasuki bis yang saya tumpangi tadi siang. Sampai di dalam bis, nampak kebingungan di raut muka ibu itu. Beliau mengedarkan pandangannya ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri. Dan tak didapatinya satu kursi pun yang kosong. Akhirnya beliau menetap diri di tengah-tengah bis, di selah-selah kursi yang sudah terisi penuh sesak oleh puluhan penumpang.
Tanpa sengaja, terlihat olehku seorang pemuda berjaket putih kumal sedang clingukan. Aku merasa ada yang tidak beres dengan pemuda itu. Dari kursi nomor 3 dari depan sebelah kanan, diam-diam aku sesekali “menoleh ke belakang” untuk mengamati pemuda itu. Jaketnya yang berwarna putih terlihat begitu lusuh dan kotor. Mungkin sudah satu bulan tak pernah dicucinya. Rambutnya awut-awutan. Barangkali ia tak mampu untuk sekedar membeli minyak jelantah dan sisir untuk merapikannya. Sepatunya pun begitu. Hipotesis-ku mengatakan, sepatu itu pasti berwarna putih saat pertama kali ia membelinya. Tapi sekarang warna yang lebih dominan terlihat adalah cokelat, dihiasi pula dengan lubang di bagian jempol sebelah kiri. Di sekujur tubuhnya, yang melekat hanya warna hitam dan putih.
Satu menit berlalu, ibu tadi belum juga menemukan kursi kosong. Paling tidak untuk kedua putrinya. Sementara itu, mulai nampak kebingungan di wajah pemuda tadi. Sedangkan aku, tetap duduk nyaman di kursiku -sebagaimana penumpang lainnya-sambil pura-pura tidur dan sesekali mengamati gerak-gerik ibu dan pemuda tadi dari bangku depan.
Dua menit, tiga menit…… makin nampak keresahan di wajah pemuda itu. Dalam hati aku bertanya, kira-kira apa yang sedang dipikirkan oleh pemuda tadi? Apakah dia kasihan dengan ibu-ibu tadi dan dua orang putrinya? Apakah dia mau memberikan kursinya untuk ditempati kedua anak perempuan itu? Atau malah ia cukup rendah hatii dengan menunggu ada penumpang lain yang mau mengambil jatah pahala yang akan diberikan Tuhan melalui ibu tadi dan putri-putrinya?
Ah, tak tau lah…….
Akhirnya, menit kelima berlalu. Melihat para penumpang yang masih asik dengan urusan pribadinya masing-masing, pemuda itu langsung bangkit dari kursinya. Tak kuat ia menahan perang di batinnya. Ia langsung merangkul dua anak perempuan itu, dan mendudukkannya di kursi yang barusan ia tempati.
“Matur nuwun ya, Mas!” ucap ibu tadi.
Pemuda itu hanya mengangguk diam.
Dari situ kemudian tercipta keakraban di antara mereka. Sementara kedua anak perempuan tadi tertidur pulas. Sang adik bersandar pada kursinya, sang kakak menyandarkan kepalanya pada kursi di depannya. Sedangkan saya, masih tetap setia berdiam diri di kursiku dengan urusanku pribadi. Sebagaimana para penumpang lainnya. Umumnya mereka sibuk main HP, sibuk baca buku, sibuk merenungi nasib, dan sibuk tertidur pulas. Bahkan di bagian belakang, kutemukan seorang bapak-bapak yang lagi sibuk menggoda seorang gadis di sebelahnya. Emang, “istri tetangga selalu lebih cantik di kalangan para pria yang sudah menikah”. Itu kalimat orang lho, bukan kalimat saya. Jadi kalau ada yang mau protes, jangan ke saya!
—
Kejadian di bus siang tadi amat memukul saya. Pemuda tadi seolah-olah mengajariku bagaimana cara main bola yang baik dan benar. Bagaimana cara menempatkan posisi yang tepat, sehingga kita mampu menciptakan “shot on gol” dan menjadikannya “gol”.
Kali ini gawangku berhasil dibombardir pemuda itu dengan gelontoran gol yang tak mampu aku membalasnya. Ia berhasil membuatku malu dengan skor telak: 0-9.
***
Ya Allah, kanapa beberapa hari ini Engkau selalu memberikan aku “ayat-ayat” yang terus membuatku ingat kepadanya? Ia yang menjadi syamsu qolbii, qomaru fu’adi, qurratu ‘aini, ufuqu syauqi….
Kemarin lusa Kau tunjukkan aku tentang seorang pemain bola yang bermain untuk salah satu klub kaya di Inggris. Meski gajinya berlimpah, ia tak merasakan kebahagiaan karena terpisah jauh dengan “dua orang putri”nya.
Sudah begitu lama aku tak menonton film. Tapi kenapa kemarin tiba-tiba Kau tunjukkan aku dengan salah satu film yang pemeran utamanya adalah “seorang gadis”. Dan lagi-lagi, ia mempunyai seorang adik perempuan.
Dan hari ini, kau pertemukan aku dengan seorang ibu di bus. Ia juga mempunyai “dua anak perempuan”. Kakaknya kelas 4 SD, dan adiknya kelas 1 SD.
(Bagian ini tidak masuk dalam tulisan, hanya curhat pribadi)
Pandanaran, 18 Juni 2011



[...] « Adakah Peduli Itu…. Download Contoh PKM [...]